dr. Erni Juwita, PhD, SpPD, K-PTI

No Title Description
1 Sosialisasi Tatalaksana Kasus Malaria Rumah Sakit Tingkat Provinsi Jambi 2018 Sosialisasi Tatalaksana Kasus Malaria Rumah Sakit Tingkat Provinsi Jambi 2018

Selasa-Kamis, 16-18 Oktober 2018

Jambi


PDF icon surat_tugas_ka._departemen_ipd_fku-rscm_5.pdf
2 Pengaruh Pemberian Antibiotik berdasar Panduan terhadap Lama Tinggal pada Pasien Pneumonia Komunitas di Rumah Sakit Pengaruh Pemberian Antibiotik berdasar Panduan terhadap Lama Tinggal pada Pasien Pneumonia Komunitas di Rumah Sakit

Sebagai reviewer manuskrip jurnal Universa Medicina berjudul "Pengaruh Pemberian Antibiotik berdasar Panduan terhadap Lama Tinggal pada Pasien Pneumonia Komunitas di Rumah Sakit"

16 Maret 2018

eISSN: 2407-2230/pISSN: 1907-3062


PDF icon reviewer_pengaruh_pemberian_antibiotik_berdasar_panduan_terhadap_lama_tinggal_pada_pasien_pneumonia.pdf
3 Pertemuan Pengendalian dan Evaluasi Tatalaksana Penanggulangan Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Pertemuan Pengendalian dan Evaluasi Tatalaksana Penanggulangan Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik

Senin, 15 Oktober 2018

Kantor Sudin Kesehatan Kota Administrasi, Jakarta Pusat


PDF icon izin_kadep_ipd_p2ptvz_4.pdf
4 Workshop Evaluasi Pengembangan Model Fase Pemeliharaan Eliminasi Malaria di Provinsi DKI Jakarta dan Bali Workshop Evaluasi Pengembangan Model Fase Pemeliharaan Eliminasi Malaria di Provinsi DKI Jakarta dan Bali

Kamis-Jumat, 19-20 Juli 2018

Hotel Balairung Jakarta


PDF icon izin_ka._dep._ipd_1.pdf
5 LAPORAN KASUS: Efektivitas Vaksinasi Influenza dalam Mencegah Asma Eksaserbasi Akut pada Pasien Dewasa LAPORAN KASUS: Efektivitas Vaksinasi Influenza dalam Mencegah Asma Eksaserbasi Akut pada Pasien Dewasa

Infeksi saluran nafas akut merupakan pencetus utama terjadinya asma eksaserbasi akut. Salah satu penyebab infeksi saluran nafas tersebut adalah virus influenza. Pemberian vaksin influenza pada penderita asma diharapkan dapat melindungi dari serangan akut asma yang diakibatkan oleh virus influenza. Tujuan dari telaah kasus berbasis bukti ini adalah untuk mengetahui sejauh mana efektivitas vaksin influenza dalam memproteksi timbulnya asma eksaserbasi akut pada usia dewasa. Pencarian dilakukan pada database Pubmed, EBSCO, Clinical Key, Google Scholar, dan Science Direct untuk mengidentifikasi artikel yang relevan. Pencarian dilakukan pada tanggal 30 Maret 2015. Terdapat dua artikel yang memenuhi kriteria dan dapat diakses secara penuh untuk digunakan dan dilakukan telaah kritis. Telaah kritis menunjukkan bahwa dua artikel tersebut memiliki validitas baik. Kedua artikel tersebut menunjukkan tidak terdapat signifikansi efek vaksinasi terhadap asma eksaserbasi akut. Hasil penghitungan Number Needed to Treat (NNT) dari salah satu artikel dapat dikatakan kurang bermakna. Vaksinasi influenza tidak memiliki efek proteksi yang signifkan terhadap asma eksaserbasi akut usia dewasa.

Efektivitas Vaksinasi Influenza.Vol. 5, No. 3, Desember 2017. Diterima 14 Maret 2017; Disetujui 30 November 2017 DOI: 10.23886/ejki.5.7450.


PDF icon efektivitas_vaksinasi_influenza_dalam_mencegah_asma_eksaserbasi_akut_pada_pasien_dewasa.pdf
6 Ancaman Penyakit Mengintai Korban Banjir, Apa Langkah Pemprov DKI? (Tirto.id Kesehatan 7 Februari 2018) Ancaman Penyakit Mengintai Korban Banjir, Apa Langkah Pemprov DKI? (Tirto.id Kesehatan 7 Februari 2018)

Dokter spesialis Infeksi dan Tropiks di Rumah Sakit Metropolitan Medical Center (RS MMC), Erni Juwita Nelwan mengingatkan adanya ancaman penyakit yang mengintai puluhan ribu jiwa yang saat ini terdampak banjir. Beberapa yang kerap menjangkiti para pengungsi, kata Erni, antara lain seperti leptospirosis, infeksi pernapasan dan diare.

Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan bakteri leptospira yang dibawa oleh hewan-hewan tertentu. Bakteri ini dapat masuk ke tubuh manusia ketika meminum air yang terkontaminasi, misalnya sehabis banjir.

“Gejalanya seperti demam, meriang, muntah-muntah. Bisa juga iritasi pada bagian mata,” kata Erni saat dihubungi Tirto, Rabu (7/2/2018).

Namun, kata Erni, leptospirosis ini tidak memiliki gejala-gejala yang signifikan, sehingga sulit untuk terdiagnosis dan biasanya baru diketahui dalam waktu 1-2 minggu.

Sementara infeksi pernapasan, bisa diakibatkan oleh Respiratory Syncytial Virus (RSV) atau virus pernapasan yang memasuki tubuh pengungsi melalui mata, hidung atau mulut. Virus ini biasanya menyebar dengan mudah melalui batuk atau bersin yang mengandung sekret infeksius.

“Bisa juga melalui kontak langsung, bisa juga bahkan lewat berjabat tangan,” kata perempuan kelahiran Jakarta, 5 September 1977 ini.

Sementara itu, ancaman penyakit diare, kata Erni, terkait dengan sulitnya akses terhadap air bersih. “Jadi kalau mereka makan, apalagi makannya kurang bersih, itu gampang sekali terkena diare.”

Untuk mencegah penyakit-penyakit tersebut, Erni menyarankan agar Pemprov DKI menyiapkan fasilitas pengungsian yang layak. Sebab, jika warga dibiarkan mengungsi dalam kondisi lingkungan yang kotor, maka penyakit-penyakit itu akan muncul dalam skala yang masif.

“Kalau bisa dilengkapi dapur umum dan akses terhadap air bersih,” kata perempuan yang pada tahun 2017 mendapatkan gelar PhD dari Radboud University Nijmegen, Belanda ini.


Image icon screenshot_2019-03-21_ancaman_penyakit_mengintai_korban_banjir_apa_langkah_pemprov_dki_.png
7 Workshop Travel Medicine Workshop Travel Medicine

Senin, 20 Agustus 2018

Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK), Jakarta


PDF icon d6.02.02_-_2018_surat_tugas_ketua_dept_ipd_2.pdf
8 Pertemuan Koordinasi dan Evaluasi Program untuk Tatalaksana Malaria bagi Dokter dan Perawat Tahun 2018 Pertemuan Koordinasi dan Evaluasi Program untuk Tatalaksana Malaria bagi Dokter dan Perawat Tahun 2018

Senin - Selasa - Rabu, 27 - 28 - 29 Agustus 2018

Natuna Hotel, Kepulauan Riau


PDF icon 2798_-_izin_ka._dep._ipd_fkui_ejn_3.pdf
9 Penguatan Jejaring LayananMalaria di Provinsi DKI Jakarta Bersama UNICEF dan Paritrana Asia Penguatan Jejaring LayananMalaria di Provinsi DKI Jakarta Bersama UNICEF dan Paritrana Asia

Rabu, 17 Januari 2018

Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta


PDF icon dm.02.01_-_st_ka_dep._ipd_4.pdf
10 Rapat Pelaksanaan Review Obat Dalam Formularium Nasional Rapat Pelaksanaan Review Obat Dalam Formularium Nasional

Selasa - Rabu, 22 - 23 Mei 2018

Kemenkes RI


PDF icon v_review_fornas_3.pdf
11 Saya Kuat Lawan Difteri Saya Kuat Lawan Difteri

Sabtu, 10 Februari 2018

Auditorium "Soejo" Lantai 10 The "H" Tower - RS MMC


Image icon v_img-20180210-wa0000_2.jpg
12 Pertemuan Reorientasi Malaria Pertemuan Reorientasi Malaria

Kamis, 19 April 2018

Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur


PDF icon dm.02.01_-_st_pertemuan_reorientasi_malaria_5.pdf
13 Semua harus cegah resistensi antibiotik (Antaranews.com 15 November 2018) Semua harus cegah resistensi antibiotik (Antaranews.com 15 November 2018)

Dokter Erni Juwita Nelwan Ph.D, SpPD-KPTI yang merupakan konsultan penyakit tropik infeksi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo mengatakan pada dasarnya kurikulum pendidikan kedokteran dan praktis klinis selalu diupayakan agar para dokter memahami antibiotik bukan obat symptomatic.

"Untuk meresepkannya harus paham ada diagnosis infeksi bakteri dulu. Dokternya harus memiliki kemampuan diagnosis infeksi bakteri atau bukan secara baik sehingga bisa menulis resepnya dengan tepat," kata Erni.

Dia mengatakan PAMKI telah berupaya secara terus menerus menyadarkan dokter klinisi di rumah sakit untuk tidak memberikan antibiotik kalau masalah infeksinya bukan bakteri.

Sejalan dengan hal itu, Erni juga mengingatkan kepada masyarakat agar tidak sembarang mengonsumsi antibiotik atau bahkan meminta dokter meresepkannya.

"Harus edukasi masyarakat bahwa antibiotika bukan obat batuk, bukan obat lemas, bukan obat sakit kepala. Antibiotika diberikan kalau kita ada infeksi bakteri," kata Erni.

Dia menerangkan penyakit seperti demam berdarah dan malaria tidak diberikan obat antibiotik karena bukan disebabkan oleh bakteri.

Bahkan untuk kasus diare yang disebabkan oleh parasit, kata Erni, tidak diberikan antibiotik melainkan antiparasit.


Image icon screenshot_2019-03-21_semua_harus_cegah_resistensi_antibiotik_-_antara_news.jpg
14 Mewaspadai Resistansi Antibiotik (Edisi Kesehatan: Koran Tempo 21 November 2018) Mewaspadai Resistansi Antibiotik (Edisi Kesehatan: Koran Tempo 21 November 2018)

Pemerintah sudah mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 8 Tahun 2015 tentang Program Pengendalian Resistensi Antimikroba di Rumah Sakit. Aturan ini mewajibkan setiap rumah sakit memiliki tim Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) dan menerapkan aturan program pengendalian antibiotik.

Konsultan penyakit tropik infeksi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Erni Juwita Nelwan, mengatakan agar PPRSA bisa dilaksanakan rumah sakit secara baik, diperlukan komitmen bersama. Ini meliputi tenaga medis dan nonmedis, infrastruktur rumah sakit, serta kebijakan pimpinan rumah sakit yang mendukung penggunaan antibiotik secara proporsional. "Melaksanakan pengendalian infeksi secara optimal, pelayanan mikrobiologi klinis, dan pelayanan farmasi klinis secara profesional", ucap Erni.


PDF icon mewaspadai_resistansi_antibiotik.pdf